About Me

Foto saya
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Assalamu'alaikum.. salam kenal, namaku Astrie Damayanti. Mahasiswi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang. Silahkan menikmati cerita yang kubagi...

Sabtu, 10 Maret 2012

cerita si tua yang renta


Cerita si tua yang renta
Oleh Astrie Damayanti

Di kursi panjang ini aku melihatnya
Dia yang renta
Gemetar ringkih hati meronta
Berdiri di akhir baris tertata
Mengatup sayup lelah tak berkata
Sakitkah atau takutkah
Keduanya terlihat sama tak terbelah

Wanita tua yang meronta
Terbatuk lirih menahan lara
Bibirnya terkatup pecah
Dari tangannya tergenggam seribu rupiah
Berharap obat ia dapatkan segera
Apakah dia yang tua
Pantas mendapat sehatnya

Dia yang renta terbalut selendang biru
Kembali berucap sendu
Samakah dia dengan Koran yang sekali baca
Atau kaleng bekas di jalan
Hingga tak mendapat tempat nyaman
Dimanakah pelayanan kesehatan
Yang terdengar seperti lantunan nyanyian
Apalah arti kata merata
Jika si miskin yang tak punya apa-apa
Tak bisa merasa 

Hati tergugah berkata
Dimana ia harus layangkan cerita
Di depan bangunan putih yang mati
Yang bisu dan tuli
Atau di depan mereka yang punya kuasa
Slalu terumbar janji palsu
Berujung dusta tak bermutu
Andai janjimu dapat ditukar obat
Pasti si renta tak lama menunggu

Dia yang renta lelah dan lusuh
Bertepi mencari teduh
Mendekat duduk disampingku
Menyimpulkan senyum yang luluh
Membisikkan tanya lirih padaku
Layakkah si miskin yang renta sepertiku
Harusnya tak boleh sakit mengadu
Tak ada jawaban pasti terucap segera
Dari bibirku ataupun
Bibirmu masih terdengar sama

inversio utero


A.    PENGERTIAN
      Kegawatdaruratan pada kala III yang dapat menimbulkan perdarahan adalah terjadinya inversio uterus. Inversio uterus adalah keadaan di mana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit (Sarwono Prawirohardjo,2008).
      Inversio uterus adalah inversi atau prolaps uterus ke dalam vagina, atau di vulva selama kala ketiga persalinan, mengakibatkan kolaps atau mendadak dan serius pada ibu (Cuerden, 2001).

B.     ETIOLOGI
Inversio uteri biasanya dijumpai pada atau sesudah kala III persalinan. Tekanan pada fundus uteri yang di lakukan ketika uterus tidak berkontraksi baik, tarikan pada tali pusat, kontraksiyang tidak normal, dapatmerupakan permulaan masuknya fundus uteri ke dalam kavum uteri, dan kontraksi uterus berturut-turut mendorong funus yang terbalik ke bawah. Korpus uteri terbalik dapat melewati serviks uteri yang terbuka sampai ke vagina. Jika penderita dapat mengatasi peristiwa ini dengan uterus tidak direposisi, penyakitnya menjadi menahun. Inversion uteri dapat pula terjadi di luar persalinan. Mioma uteri submukosum yang sedang dilahirkan secara perlahan-lahan menarik tempat insersinya pada dinding uterus ke bawah kavum uteri, dan menyebabkan inversio uteri menahun. (Prawirohardjo, 2009)
      Faktor yang memungkinkan inversio uterus terjadi adalah adanya atonia uteri, serviks yang masih terbuka lebar, dan adanya kekuatan yang menarik fundus ke bawah (misalnya karena plasenta akreta, inkreta dan perkreta, yang tali pusatnya ditarik keras dari bawah) atau ada tekanan pada fundus uteri dari atas (maneuver Crede) atau tekanan intra abdominal yang keras dan tiba tiba (misalnya batuk keras atau bersin) (Prawirohardjo,2008).

Tanda dan Gejala Inversio Uteri adalah  
Uterus terlihat
·         Uterus bisa terlihat sebagai tonjolan mengilat, merah lembayung di vagina.
·         Plasenta mungkin masih melekat.
Perdarahan
·         Tanda paling sering prolaps uteri adalah perdarahan, tetapi cepatnya ibu mengalami kolap tidak sesuai dengan jumlah kehilangan darahnya (Magill-Cuerden,2001).
Syok berat
·         Syok berat dan mendadak, tidak dapat diterangkan (Magill-Cuerden,2001).
Nyeri
·         Nyeri abdomen bawah berat, disebabkan oleh penarikan pada ovarium dan peritoneum serta bisa disertai rasa ingin defekasi (Kroll & Lyne, 2002).
(Vicky Chapman, 2003)
Gambar 1. Akibat traksi talipusat dengan plasenta yang berimplantasi dibagian fundus uteri dan dilakukan dengan tenaga berlebihan dan diluar kontraksi uterus akan menyebabkan inversio uteri


            Gejala klinik pada inversio uteri meliputi:
1.      Terjadi spontan atau karena tindakan Crede yang terlalu cepat.
2.      Tarikan ligamentum infundibulopelvikum dan ligamentum rotundum, menarik pula peritoneum sehingga menimbulkan rasa nyeri yang dalam.
3.      Dapat disertai plasenta yang masih melekat.
                  (Manuaba, 2001)

C.     PATOFISIOLOGI
      Uterus dikatakan mengalami inversi jika bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya segera dilakukan. Dengan berjalannya waktu, lingkaran konstriksi sekitar uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah. Dengan adanya persalinan yang sulit, menyebabkan kelemahan pada ligamentum-ligamentum, fasia endopelvik, otot-otot dan fasia dasar panggul karena peningkatan tekanan intra abdominal dan faktor usia.
      Karena serviks terletak diluar vagina akan menggeser celana dalam dan menjadi ulkus dekubiltus (borok). Dapat menjadi sistokel karena kendornya fasia dinding depan vagina (mis : trauma obstetrik) sehingga kandung kemih terdorong ke belakang dan dinding depan vagian terdorong ke belakang. Dapat terjadi uretrokel, karena uretra ikut dalam penurunan tersebut. Dapat terjadi rektokel, karena kelemahan fasia di dinding belakang vagina, oleh karena trauma obstetri atau lainnya, sehingga rektum turun ke depan dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan. Dapat terjadi enterokel, karena suatu hemia dari kavum dauglasi yang isinya usus halus atau sigmoid dan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan. Sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel dan kolpokel disebut prolaps vagina.Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina, tetapi prolaps vagina dapat berdiri sendiri .

D.    DIAGNOSIS
      Diagnosis inversio uteri akut biasanya tidak sulit. Gejala-gejalanya syok, nyeri keras dan perdarahan, tidak terabanya fundus uteri di bawah pusat, dan adanya tumor lembek di vagina yang keluar dari serviks uteri yang sedikit terbuka memastikan diagnostik. Pada inversion uteri menahun terlihat serta teraba pada pemeriksaan ginekologik sebuah tumor kenyal kemudian cincin dalam vagina yang dengan tangkainya masuk ke dalam dengan melewati lingkaran, yakni ostium uteri eksternum yang sedikit terbuka, sedang di atas serviks uteri tidak teraba adanya korpus uteri. (Prawirohardjo, 2009)
Diagnosis dari inversio uterus adalah
1.      Pemeriksaan pascapartus, fundus uteri tidak teraba di tempat.
2.      Terdapat lekukan didaerah fundus uteri berlokasi.
3.      Pemeriksaan dalam:
a.       Mungkin plasenta masih teraba
b.      Teraba benda lunak dalam liang senggama atau masih dalam kavum uteri
(Manuaba, 2001)

E.     KLASIFIKASI
Inversio dapat terjadi pada masa nifas atau di luar masa nifas. Di luar masa nifas biasanya parsial atau inkomplit dan sering dihubungkan dengan adanya tumor uterus. Sedang inversio yang terjadi pada masa nifas dapat terjadi akut atau kronik dan jarang terjadi serta sering berulang.
Tipe inversio uteri
1.      Inversio lokal : fundus uteri menonjol sedikit ke dalam kavum uteri.
2.      Inversio parsial tonjolan fundus uteri terbatas hanya pada kavum uteri.
3.      Inversio inkomplit : penonjolan sampai mencapai kanalis servikalis.
4.      Inversio komplit : tonjolan telah mencapai ostium uteri eksternum.
5.      Inversio total : tonjolan telah mencapai vagina atau keluar vagina.
(Prawirohardjo, 2009)

Inversio uteri dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1.      Tingkat pertama
Fundus masuk uteri tetapi belum melewati kanalis servikalis.
2.      Tingkat kedua
Fundus masuk ke dalam kavum uteri dan telah berada dalam vagina.
3.      Tingkat ketiga
Fundus uteri mengalami inversio total dan tampak di luar vagina dan dapat disertai plasenta yang masih melekat.
(Manuaba, 2001)
F.      PENATALAKSANAAN
Sebagai tindakan pencegahan, dalam memimpin persalinan harus selalu waspada akan kemungkinan timbulnya inversio uteri. Janganlah memijat-mijat uterus yang tidak berkontraksi dan lembek, dan jangan mengadakan tarikan pada tali pusat, sebelum yakin bahwa plasenta sudah lepas. Pada inversio uteri yang sudah terjadi, sambil mengatasi syok dilakukan reposisi manual dalam narcosis. Tangan kanan seluruhnya dimasukkan ke dalam vagina, melingkari tumor dalam vagina, dan telapak tangan mendorong perlahan-lahan tumor ke atas melalui serviks yang masih terbuka. Setelah reposisi berhasil, tangan dipertahankan sampai dirasakan uterus telah berkontraksi, dan kalau perlu dimasukkan tampon ke dalam kavum uteri dan vagina. Tampon dibuka setelah 24 jam. Sebelumnya di berikan uterotonika lebih dulu sebelum tampon diangkat ( Prawirohardjo, 2009).
Umumnya reposisi, segera setelah inversio uteri terjadi, tidak sulit. Pada inversio uteri menahun prosedur di atas tidak dapat di lakukan karena lingkaran kontraksi pada ostium uteri eksternum sudah mengecil dan menghalangi lewatnya korpus uteri yang terbaik. Dalam hal ini perlu dilakukan operasi setelah infeksi diatasi. Operasi vaginal terdiri atas operasi menurut Kustner dan operasi menurut Spinelli. Pada operasi ke dua pemotongan dilakukan di sebelah depan. Pemotongan lingkaran dan dinding di atasnya memungkinkan reposisi sesudah itu, lika dijahit kembali. Haultain dan Huntington mengusahakan reposisi dengan laparotomi. Akhirnya, pada wanita yang mendekati akhir masa reproduksi dapat dilakukan histerektomi. ( Prawirohardjo, 2009).
Tatalaksana pengelolaan pada inversion uterus harus segera mendapat pertolongan.
1.      Pasang infuse rangkap, mempersiapkan darah yang cukup.
2.      Berikan tokolitik;
a.       Ritrodine.
b.      Magnesium sulfat.
3.      Hilangkan rasa nyeri dengan pethidine atau morfin.
4.      Lekukan reposisi:
a.       Anesthesia segera dengan general anesthesia.
b.      Reposisi pervaginam plasenta manual, massase, uterotonik, oksitosin, dan metergin.
5.      Bila gagal reposisi, lakukan tindakan operasi:
a.       Transabdominal menurut Haultein.
b.      Transvaginal menurut Spinelli.
(Manuaba: 2001)

Gambar 2.
Reposisi Inversio Uteri.
(a)     Inversio uteri total (b) Reposisi uterus melalui servik. (c) Restitusi uterus

Kamis, 02 Februari 2012

Cintaku Bimbang

Sore merekah dalam senja merah yang terlukis indah di hamparan luas langit biru. Tergores tipis putih bersih menyatukan warna di batas keduanya . Walau si bundar bercahaya tak nampak tegas, ia mampu menyilaukan mata. Layar agung yang tergelar penuh pesona, sedikit terhalang dengan bangunan rumah ataupun gedung. Betapa kecilnya aku yang memandang pertunjukan alam dari sudut pijak lingkaran ini. Menjinjitpun tak mampu melihat semua warna yang langit tampilkan. Namun paras keanggunan dapat kuintip di balik sela kelelahan yang memburuku. Kuliah dari pagi hingga sore jam tiga, dilanjut dengan praktikum dua jam menguras tenaga dan emosiku. Yah, semenjak aku kuliah jurusan kebidanan di salah satu kota yang terkenal dengan kota pelajar ini, hampir membuatku merana setiap harinya. Hidup jauh dari keluarga dengan layanan tempat seadanya demi menggenggam impianku.
Suasana berbeda kurasakan. Begitu ramai kota Jogja mulai dari bangunan, baik yang megah ataupun sederhana. Kendaraan, baik yang beroda empat hingga beroda dua, dan tak lupa kendaraan bertenaga kuda mengisi ruas jalan. Penghuni kota jojga, baik orang asli jogja sendiri hingga yang berasal dari luar kota, daerah, dan pulau. Aku juga menambah kependudukan baru di sini. Berasal dari kota kecil Wangon, Purwokerto yang terkenal dengan bahasa banyumasan, si ngapak inyong. Berada di kota jogja satu setengah tahun yang lalu mengenalkanku bahasa jawa lain yang penuh kelembutan. Bangunan yang kupilih dari berbagai macam bentuk, aku pilih yang sederhana. Sekotak kecil dalam ruangan yang mampu berisi tempat tidur, lemari dan macam barang bawaan. Mungkin lebih tepatnya disebut dengan kos – kosan. Menjadi anak kos di Jogjakarta. Yang tadinya hidup serba enak di rumah mulai dari tidur, kebutuhan makan dan mandi terlayani dengan sempurna kini harus merela untuk melayani diri sendiri dan berbagi dengan yang lain. Banyak yang bilang ngekos bikin mandiri. Aku mengiyakan, karena telah merasakan.
Aku tertawa riang dengan dua temanku. Anggun dan Nita di sepanjang menuju kos. Dua sahabatku yang aku kenal di Jogja. Mereka berdua berasal dari daerah yang berbeda. Anggun dari Solo dan Nita dari Surabaya. Jika kami berbicara dengan bahasa kami masing – masing tentunya arah kebingungan kami tidak akan nyambung sedikitpun. Inilah Indonesia banyak bahasa namun pasti bisa disamakan persepsi dengan satu bahasa, bahasa Indonesia. Kami bertiga sama – sama satu jurusan dan bertempat dalam kos – kosan yang sama. Banyak cerita yang telah kami bagi dan banyak pula rasa yang dialami.  
Kami bersenda gurau menyusuri tapak jalan menuju kos yang tak jauh dari kampus. Membicarakan apapun yang terlintas dalam benak.
“May, sore ini kamu mau masak apa, perutku sudah mulai keroncongan nih?” tanya Anggun dengan muka menahan lapar.
“Huaaaa males buat masak lagi. Capek. Bantuin ya Nggun nanti pasti tahu apa menu makanan kita.” Rintihku memelas.
“No no no! kemaren aja aku minta bantuan kamu eh malah kabur. Hukuman tetap hukuman May. Siapa suruh minggu kemarin enggak bersihin kamar mandi. Dua hari jadi koki tanpa bantuan siapapun.”
“Hummm…. Nit, bantuin yah?” pintaku pada Nita.
“Hadduhh May aku masih sakit nih. Uhuk – uhuk masih batuk kan.” Jawab Nita dengan ekspresi dibuat.
“Dasar! bilang aja nggak mau bantu.” Kesalku.
Nita dan Anggun saling tos menandakan sepakat dari awal untuk tidak membantuku sama sekali. Aku mempercepat langkahku. Disusul oleh Anggun dan Nita. Mereka hanya bisa tertawa meledekku. Nita mengalihkan pembicaraan hukuman memasakku. Sederet cerita tentang Ikbal yang menjadi topik hangat kami kali ini. Ikbal, cowok keren berparas ganteng menarik perhatian kami bertiga. Dia ngekos tepat persis di depan kosanku. Ikbal tidak sendiri ada 3 kawannya ikut ngekos di rumah ibu dan bapak kos kami. Semula hanya tersedia kos untuk cowok. Ibu, bapak kos menambah ladang pundi pundinya di belakang rumah, khusus kos cewek. Ada tujuh ruang kamar dan tiga diantaranya di huni oleh kita bertiga. Penjagaan kos bukan main main. Di teras depan rumah ibu kos, dipasang papan bertuliskan “dilarang bagi tamu putra memasuki kosan putri”. Yap, menembus benteng pagar kosan harus bertemu dengan ibu kos dulu. Setidaknya untuk permisi. Kami tentunya disediakan bilik cantik untuk mengobrol.
 Untuk sekedar menyapa kosan depan juga terkadang sulit. Terutama dengan mas Ikbal. Lantaslah mereka beda jurusan dengan kami, namun masih dalam satu universitas. Dia dua tingkat lebih dulu dibandingku. Aku jarang berbincang dengan mas Ikbal. Yang aku kenal dekat malah teman yang satu kos dengan dia, mas Dika. Dia jauh lebih suka bertegur sapa dengan kami. Murah senyum beda dengan mas Ikbal yang kaku bibirnya tuk ditarik ke atas. Lewat mas Dika juga aku menanyakan tentang mas Ikbal. Mungkin mas Dika tahu jelas tentang rasaku yang tersembunyi.
Aku, Anita dan Anggun berjalan begitu lambat bak siput yang sedang menaiki tanjakan. Mungkin karena terlalu asyik mengobrol hingga kami terlarut dalam nuansa sore ini. Lurus dan ambil kanan untuk mencapai kosan kami. Sedikit lagi masuk ke belokan kanan. Suara motor dari arah belakang menarik perhatianku. Tak asing ku dengar. Lambat laun semakin dekat dan aku terkaget karna suara klakson motor. Mas Ikbal dengan helm yang sengaja dibuka dan menolehkan senyum padaku. Atau mungkin pada kita bertiga. Mas Ikbal tak sendiri, ada mas Dika yang diboncengnya.
“Duluan ya?” ajak mas Dika berlalu cepat. Dia melemparkan sesuatu padaku dan mengucap lirih untuk aku menangkapnya. Spontan aku tangkap benda itu. Ku buka perlahan. Sebuah gantungan kunci bertulis malioboro. Aku terheran dalam hati.
“Ciee… mas Dika kasih gantungan kunci nih.” Ledek Anggun dan mengambil gantungan dari tanganku. Anggun dan Nita menelusuri tiap lekuk gantungan kunci. Layaknya detective handal yang menyelusuri detail, barang kali ada yang mencurigakan.
“May, kok tampak udah usang sih, udah lama.” kata Nita. Aku melihat kembali. Gantungan tampak telah lama dipakai. Aku mengerutkan dahi. Segelintir pertanyaan memenuhi isi otakku. Aku menaruhnya disaku celanaku. Biarlah akan aku tanyakan nanti jika bertemu dengan mas Dika. Aku mendiamkan pertanyaan Nita. Pikiranku seolah cepat berlalu tentang gantungan kunci malioboro. Bayang mas Ikbal kembali berkelebat dalam pandang mataku
“Kalian lihat mas Ikbal nggak tadi. Senyumannya manis. Aku terseponalah.” Ucapku heboh.
“Ter-pe-so-na Maya.” Kata Anita meluruskan kataku.
Anggun dan Nita hanya menggeleng – gelengkan kepala melihatku begitu menggilai mas Ikbal. Mereka meledekku dengan segala guyonan mereka. Aku tersenyum manja dan memerahkan kedua pipiku. Aku nampak tak percaya melihat dia menganggukkan kepalanya dan membuka kaca helmnya. Bayangannya masih berkelebat di benakku tak mau hilang. Tak seperti biasanya dia begitu. Mungkin karena ada mas Dika sehingga dia mau beramah tamah denganku.
Hatiku melambung tinggi. Ingin berteriak keras bahagia membagi rasa pada semuanya. Menari – nari tarian romantis antara Romeo dan Juliet dibawah sinar rembulan. Hati seolah mekar seperti kembang sore yang berada dipinggir jalan. Nampak malu – malu untuk membuka kelopaknya. Dan mata berbinar seperti berlian yang berkilau di pagi hari. Semoga aku terlihat olehnya sebagai berlian yang perlu ia raih hatinya.
Tanpa terasa kos kosan ada di depan mata. Terparkir motor besar yang mas Ikbal kendarai tadi. Sayang, penghuninya berada di dalam. Aku berlalu pergi sambil memandang sepeda motor. Tersenyum – senyum sendiri sambil menyanyikan nada cinta dalam hati. Memasuki kamar kos yang tak seberapa luasnya. Merebahkan tubuh ke kasur. Melepas penat dengan membayangkan mas Ikbal kembali. Aku malu pada diriku sendiri. Menutup mukaku dengan bantal kecil. Mengguling – nggulingkan badan yang semakin terbuai oleh semerbak cinta menyelimuti.
“Hey mau sampai kapan kamu guling – guling nggak karuan gitu. Masak gih! Lapperrrr…”  Ledek Anggun yang memergokiku. Aku semakin malu. Kembali menata diriku yang berantakan. Mendorong anggun keluar dari kamarku. Mengganti pakaian dan segera bergelut dengan berbagai bumbu masakan. Dulu aku buta dengan bumbu – bumbu dapur yang ruwet jika dihafalkan satu persatu. Tak bisa masak. Entah itu gosong, keasinan, terlalu matang dan apapun bermacam bentuk. Di rumah memang aku tak pernah menyentuh dapur dalam urusan masak. Pekerjaan memasak aku tak suka. Di kos ini Anggun dan Nita mengajariku cara memasak. Menjadi guru masakku. Kadang sering bertengkar gara – gara makanan. Biasa selera lidah yang berbeda dengan bumbu masakan khas dari daerah masing – masing.
Makanan terhidang kami berkumpul untuk menyantap makan malam. Sayur kacang panjang dan telur dadar menjadi menu makan malam kami. Aku lupa mengambil krupuk yang ku taruh di kamarku. 
“Nit, minta tolong sekalian ambilin hape yang di meja yah?”
“Okeh, yang penting jajanan tak rampok semua.”
“Persediaan Nit.”
“May, ada tiga panggilan tak terjawab dari Mas Iik nih! Ciee siapa tu mas Iik?” teriak Nita dari kamarku. Ia keluar dengan membawa krupuk di tangannya dan hapeku juga. Ia langsung menyerahkannya padaku. Kembali menyantap makanan. Aku tak menghiraukan panggilan itu. Hapeku kembali bergetar. Sms masuk. Ku buka sms dari mas Iik.
“Siapa si May?” tanya Nita kembali penuh penasaran.
“Ada deh mau tau aja.” Aku menyudahi makan malamku. Mencuci piring dan segera kembali ke kamar mengambil jaketku.
“Mau kemana?” tanya Anggun.
“Keluar sebentar.” Aku langsung keluar tanpa menjelaskan apa keperluanku keluar. Terdengar suara bisikan dari Nita dan Anggun namun tak kuhiraukan. Aku tahu pasti mereka ingin tahu apa yang terjadi. Akan kujelaskan nanti saja. Tanganku menggenggam gantungan kunci yang bertulis malioboro. Suara degub jantungku begitu cepat kedengarannya seperti pacuan kuda. Tak karuan. Melangkah ke depan dan berjalan menuju rumah ibu kos. Tanganku berkeringat. Aku merabanya semua jemariku dengan ibu jari. Meremas gugup dengan apa yang aku akan lakukan. Aku tepat berada persis depan pintu. Mengetuk atau tidak. Kuurungkan niatku. Membalikkan badanku ingin kembali ke kos saja. Baru satu langkah aku berhenti. Membalikkan kembali badanku. Mengetuk yakin pintu rumah ibu kos.
Tok tok tok . . . .
“Assalamu’alaikum….” Ucap salamku. Satu kali salam belum ada jawaban. Dari luar sini terdengar suara ramai sedang menonton televisi. Aku mengulangi salamku lebih keras. Beberapa detik kemudian ibu kos menjawab salamku. Ia segera membukakan pintu untuku.
“Wa’alaikumsalam. Eh mbak Maya. Ada apa ini kok sendirian ke sini, yang lain mana? Mari masuk mbak.”
“Iya ibu terima kasih, Maya hanya sebentar kok. Itu ibu mas Dikanya ada. Mau ngembailiin barangnya mas Dika.”
“Oh, sebentar ya tak panggilin. Mas Iik ada mbak Maya.”
Terdengar mas Dika menjawab cekatan panggilan ibu. Segera ia menampilkan diri padaku. Ibu kos meninggalkan kami di teras rumah. Segera ku ulurkan tanganku dan membuka genggaman.
“Nih gantungannya. Lenjeh banget! Mas Iik yang ngasih, eh minta dikembaliin. Huu.. dasar!” kataku kesal sambil menyerahkan gantungan kunci. Mas Dika tak menerimanya ia malah menyembunyikan tangannya. Memanggil mas Ikbal untuk keluar.
“Ikbal! Keluar sebentar. Ini punyamu bukan?” teriak mas Dika. Aku mengernyitkan dahiku. Apa yang mas Dika lakukan sungguh tak bisa aku tebak. Mas Dika menaikkan alisnya ke atas. Mencoba menggodaku denghan senyum mencurigakan darinya. Aku masih ternganga dengan apa yang ia buat.
 “Good luck yah.” Mas Dika mengacak rambutku. Aku segera merapihkannya. Mas Ikbal keluar dari kamarnya. Aku menarik nafas panjang. Melihat mas Ikbal membuatku tak berkutik apapun.
“Apanya yang punyaku?” tanya mas Ikbal menghampiri kami berdua.        
“Tuh di Maya. Haduh aku ketinggalan pertandingan bolaku.” Kata mas Dika dan segera pergi sambil menepuk bahu mas Ikbal. Aku tak tahu apa yang diisyaratkan mas Dika pada mas Ikbal. Terlalu rumit untukku.
Melihat kursi yang tersedia di teras depan. Mas Ikbal menyuruhku untuk duduk sebentar. Aku pun menurutinya.
“Apanya yang punyaku May?” tanya mas Ikbal.
“Gantungan kunci malioboro, kata mas Dika ini punya mas Ikbal.”
“Owh, nemu dimana? Aku malah nggak nyadar ini hilang. Makasih yah?”
“Ia sama – sama mas. Mmm. . . jatuh waktu kita pas pasan tadi. Ya udah aku mau pulang ke kos mas.” Kataku gugup.
“Loh udahan, nggak main dulu.”
“Nggak mas.” Aku ingin bergegas menyudahi pembicaraanku dengan mas Ikbal. Karena semakin ku disampingnya semakin panas dingin tubuhku.
“Jangan terlalu kaku berbicara denganku May, nyante aja. Padahal aku ingin ngobrol banyak denganmu.” Lanjut mas Ikbal yang seolah mencegatku untuk tidak segera kembali. Aku hanya tersenyum kecil. Menggaruk rambut tandaku kebingungan.
“Besok kuliah jam berapa?” tanya mas Ikbal
“Biasa jam delapan mas.”
“Hemm seperlunnya aja nih jawabannya. Tadi kayaknya waktu sama Dika rame kamu May?”
Aku kembali tersenyum kecil. Tak tahu kata yang harus aku keluarkan untuk menyambung obrolan tadi. Rasanya hatiku terbelenggu oleh sesuatu yang lain dan seolah menahanku. Bodohnya aku yang terlihat terlalu kaku dengan mas Ikbal.
Suara hela nafas mas Ikbal terdengar olehku. Aku melihat wajah mas Ikbal yang memandangku. Rasanya ia ingin bicara banyak malam ini. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Mengalihkan pandangannya dengan menatap langit malam yang terlihat banyak bintang disana. Aku ikut memandangi langit. Indahnya bintang – bintang penyejuk malam. Mereka berbaris membentuk formasinya sendiri – sendiri. Menyentilkan titik cahaya tak menyilaukan mata.
“Aku terlalu bodoh untuk segera menyamankan seseorang bercerita denganku. Untuk bertemu dengan seseorang saja aku harus perlu bantuan terhadap temanku.” Kata mas Ikbal kembali.
“Maksudnya?” tanyaku tak tahu.
“Hemm…inilah yang membuatku iri pada Dika. Mengapa dia bisa dekat denganmu. Membuatmu marah dan tertawa olehnya. Terkadang aku membenci temanku sendiri hanya karena aku sering melihatmu bercerita dengannya. Selalu seperti ini.”
“Haduuhh mas Ikbal salah paham nih… Mas Dika tuh nyebelin. Dia selalu saja bikin aku jengkel. Panggil aja orangnya pasti dia nggak henti – hentinya menjahiliku. Aku benci mas Dika, yang aku suka tu mas . . .” aku berhenti meneruskannya. Tak ingin dia ketahui isi hatiku.
Mas Ikbal menarikkan alisnya ke atas.
“Mas siapa?” tanya mas Ikbal. aku hanya tersenyum. Tak ingin mengulangnya kembali. Namun mas Ikbal begitu ingin mengetahuinya. Ia mengulang pertanyaan kembali.
“Mas Dika kan?”
“Bukan.”
“Mas Ikbal?” tanya mas Ikbal mengucap namanya sendiri.
“Bukan. Eh..”
“Mas Ikbal, mas Dika?
“Mas . . .”
“Aku atau Dika?”
Aku terhenyak sekejap. Mas Ikbal mencecarku. Terkaget juga mas ikbal menyebutkan namanya untuk aku suka. Hatiku rasanya tak karuan dicecar dengan dua nama itu.
“Sudahlah, tidak penting saat ini Maya suka dengan siapa. Tapi aku mulai sekarang ingin menjadi teman dekatmu. Lebih dekat daripada Dika.”
Mas Ikbal meninggalkanku. Ia seolah tak ingin kembali memandangku yang bingung. Benarkah ia marah? Atau apa yang terjadi dengan perasaan dia. Dan haruskah aku bahagia karena mas Ikbal bicara jujur tentang hatinya tadi. Aku tak mengenali perasaanku sendiri. Tak seperti tadi yang gugup penuh peluh keringat. Aku hanya terdiam seperti orang kebingungan di persimpangan jalan. Ingin bertanya pada siapa mana jalan yang harus ku ambil. Aku terlalu rumit dengan perasaanku ini. Mas Ikbal begitu tampak lain.
Aku segera berdiri. Beranjak melangkahkan kaki. Menanyakan pada diriku sendiri. Suka? Yah aku yakin dengan hatiku bahwa aku menyukai mas Ikbal. Isi otakku dipenuhi olehnya. Namun mengapa perkataan mas Ikbal tadi tak sedikitpun yang membuatku bergetar. Apa aku terlalu bodoh untuk meresapinya. Apa yang aku fokuskan tadi. Pearasaan suka? Mas Ikbal apa mas Dika? Aku hanya tersenyum. Mas Ikbal begitu naif. Jelas saja aku menyukainya. Apa yang membuat ia salah tangkap. Aku dan mas Dika hanya teman yang saling menyebalkan satu sama lain. Toh mas Dika tahu bahwa aku menyukai mas Ikbal. Dia juga membantu mas Ikbal untuk bertemu denganku malam ini. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Harusnya tadi aku langsung jawab saja pertanyaan mas Ikbal siapa yang aku suka.
Aku membinarkan mata. Berlari kembali dan ingin segera menemui mas Ikbal. Pintu masih terbuka. Segera aku memanggil Mas Ikbal. Aku menunggu tak sabar. Membalikkan badanku dan melihat bintang yang seolah tersenyum padaku.
“Apa lagi May, Ikbal lagi ke kamar kecil.”
Aku membalikkan badanku. Melihat mas Dika yang berada di depanku. Angin menghempasku. Mendinginkan seluruh tubuh ini. Degub jantungku kembali tak berirama seperti biasanya. Aku mengusap kedua tanganku. Memandang lekat mas Dika yang berada tepat di depanku. Semakin mendekat padanya. Mas dika semakin mundur dan mengeryitkan dahinya. Aku semakin tak menentu dengan pandanganku. Mas Dika mengarahkan jari telunjuk ke dahiku. Dan memundurkanya. Dia mengecek dahiku dengan telapak tangan dan membandingkan dengan suhu di dahinya.
“Aduh May, kapan kamu kambuhnya? Gawat nih habis ketemu Ikbal jadi gila kamu.”
“Isshhh. . . jangan ngacolah mas.”
Aku masih memandang mata mas Dika. Serasa sayup ia memandangku. Tak ada yang ia sembunyikan dariku. Aku merasa akulah yang menyembunyikan sesuatu padanya. Mengapa mas Dika begitu mudah untuk ku jelaskan.
“Mas Dika kenapa kamulah yang mebuat hatiku semakin bimbang?” kataku lirih tak sadar.
“Apa May?”
“Hah! Apanya yang apa?”
“Bener nih anak tambah gila. Dah sana pulang.”
Aku masih terdiam. Hatiku berasa dengan mas Dika atau mas Ikbal. Mengapa perasaan yang tak ku kenal kembali datang. Tak tahu kenapa rasa ini semakin melonjak bertemu dengan mas Dika dan tak mau hilang pikiran ini tentang mas Ikbal.
“Yah yah, yuk tak anter pulang.”
Mas Dika menarik tanganku. Menyeretku kembali ke kosan. Tangan mas Dika terasa hangat menyentuhku. Begitu nyaman. Dan tak ingin ku lepas. Entah mengapa aku ingin menangis. Sebutir tetes hangat menyentuh pipiku. Teringat kembali cecaran mas Ikbal padaku. “Siapa yang kau suka? Mas Ikbal,mas Dika? Aku atau Dika?” Aku berusaha mendengar jerit hati kecilku yang jujur. Diakah yang memang aku suka, aku cinta?