About Me

Foto saya
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Assalamu'alaikum.. salam kenal, namaku Astrie Damayanti. Mahasiswi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang. Silahkan menikmati cerita yang kubagi...

Kamis, 02 Februari 2012

Cintaku Bimbang

Sore merekah dalam senja merah yang terlukis indah di hamparan luas langit biru. Tergores tipis putih bersih menyatukan warna di batas keduanya . Walau si bundar bercahaya tak nampak tegas, ia mampu menyilaukan mata. Layar agung yang tergelar penuh pesona, sedikit terhalang dengan bangunan rumah ataupun gedung. Betapa kecilnya aku yang memandang pertunjukan alam dari sudut pijak lingkaran ini. Menjinjitpun tak mampu melihat semua warna yang langit tampilkan. Namun paras keanggunan dapat kuintip di balik sela kelelahan yang memburuku. Kuliah dari pagi hingga sore jam tiga, dilanjut dengan praktikum dua jam menguras tenaga dan emosiku. Yah, semenjak aku kuliah jurusan kebidanan di salah satu kota yang terkenal dengan kota pelajar ini, hampir membuatku merana setiap harinya. Hidup jauh dari keluarga dengan layanan tempat seadanya demi menggenggam impianku.
Suasana berbeda kurasakan. Begitu ramai kota Jogja mulai dari bangunan, baik yang megah ataupun sederhana. Kendaraan, baik yang beroda empat hingga beroda dua, dan tak lupa kendaraan bertenaga kuda mengisi ruas jalan. Penghuni kota jojga, baik orang asli jogja sendiri hingga yang berasal dari luar kota, daerah, dan pulau. Aku juga menambah kependudukan baru di sini. Berasal dari kota kecil Wangon, Purwokerto yang terkenal dengan bahasa banyumasan, si ngapak inyong. Berada di kota jogja satu setengah tahun yang lalu mengenalkanku bahasa jawa lain yang penuh kelembutan. Bangunan yang kupilih dari berbagai macam bentuk, aku pilih yang sederhana. Sekotak kecil dalam ruangan yang mampu berisi tempat tidur, lemari dan macam barang bawaan. Mungkin lebih tepatnya disebut dengan kos – kosan. Menjadi anak kos di Jogjakarta. Yang tadinya hidup serba enak di rumah mulai dari tidur, kebutuhan makan dan mandi terlayani dengan sempurna kini harus merela untuk melayani diri sendiri dan berbagi dengan yang lain. Banyak yang bilang ngekos bikin mandiri. Aku mengiyakan, karena telah merasakan.
Aku tertawa riang dengan dua temanku. Anggun dan Nita di sepanjang menuju kos. Dua sahabatku yang aku kenal di Jogja. Mereka berdua berasal dari daerah yang berbeda. Anggun dari Solo dan Nita dari Surabaya. Jika kami berbicara dengan bahasa kami masing – masing tentunya arah kebingungan kami tidak akan nyambung sedikitpun. Inilah Indonesia banyak bahasa namun pasti bisa disamakan persepsi dengan satu bahasa, bahasa Indonesia. Kami bertiga sama – sama satu jurusan dan bertempat dalam kos – kosan yang sama. Banyak cerita yang telah kami bagi dan banyak pula rasa yang dialami.  
Kami bersenda gurau menyusuri tapak jalan menuju kos yang tak jauh dari kampus. Membicarakan apapun yang terlintas dalam benak.
“May, sore ini kamu mau masak apa, perutku sudah mulai keroncongan nih?” tanya Anggun dengan muka menahan lapar.
“Huaaaa males buat masak lagi. Capek. Bantuin ya Nggun nanti pasti tahu apa menu makanan kita.” Rintihku memelas.
“No no no! kemaren aja aku minta bantuan kamu eh malah kabur. Hukuman tetap hukuman May. Siapa suruh minggu kemarin enggak bersihin kamar mandi. Dua hari jadi koki tanpa bantuan siapapun.”
“Hummm…. Nit, bantuin yah?” pintaku pada Nita.
“Hadduhh May aku masih sakit nih. Uhuk – uhuk masih batuk kan.” Jawab Nita dengan ekspresi dibuat.
“Dasar! bilang aja nggak mau bantu.” Kesalku.
Nita dan Anggun saling tos menandakan sepakat dari awal untuk tidak membantuku sama sekali. Aku mempercepat langkahku. Disusul oleh Anggun dan Nita. Mereka hanya bisa tertawa meledekku. Nita mengalihkan pembicaraan hukuman memasakku. Sederet cerita tentang Ikbal yang menjadi topik hangat kami kali ini. Ikbal, cowok keren berparas ganteng menarik perhatian kami bertiga. Dia ngekos tepat persis di depan kosanku. Ikbal tidak sendiri ada 3 kawannya ikut ngekos di rumah ibu dan bapak kos kami. Semula hanya tersedia kos untuk cowok. Ibu, bapak kos menambah ladang pundi pundinya di belakang rumah, khusus kos cewek. Ada tujuh ruang kamar dan tiga diantaranya di huni oleh kita bertiga. Penjagaan kos bukan main main. Di teras depan rumah ibu kos, dipasang papan bertuliskan “dilarang bagi tamu putra memasuki kosan putri”. Yap, menembus benteng pagar kosan harus bertemu dengan ibu kos dulu. Setidaknya untuk permisi. Kami tentunya disediakan bilik cantik untuk mengobrol.
 Untuk sekedar menyapa kosan depan juga terkadang sulit. Terutama dengan mas Ikbal. Lantaslah mereka beda jurusan dengan kami, namun masih dalam satu universitas. Dia dua tingkat lebih dulu dibandingku. Aku jarang berbincang dengan mas Ikbal. Yang aku kenal dekat malah teman yang satu kos dengan dia, mas Dika. Dia jauh lebih suka bertegur sapa dengan kami. Murah senyum beda dengan mas Ikbal yang kaku bibirnya tuk ditarik ke atas. Lewat mas Dika juga aku menanyakan tentang mas Ikbal. Mungkin mas Dika tahu jelas tentang rasaku yang tersembunyi.
Aku, Anita dan Anggun berjalan begitu lambat bak siput yang sedang menaiki tanjakan. Mungkin karena terlalu asyik mengobrol hingga kami terlarut dalam nuansa sore ini. Lurus dan ambil kanan untuk mencapai kosan kami. Sedikit lagi masuk ke belokan kanan. Suara motor dari arah belakang menarik perhatianku. Tak asing ku dengar. Lambat laun semakin dekat dan aku terkaget karna suara klakson motor. Mas Ikbal dengan helm yang sengaja dibuka dan menolehkan senyum padaku. Atau mungkin pada kita bertiga. Mas Ikbal tak sendiri, ada mas Dika yang diboncengnya.
“Duluan ya?” ajak mas Dika berlalu cepat. Dia melemparkan sesuatu padaku dan mengucap lirih untuk aku menangkapnya. Spontan aku tangkap benda itu. Ku buka perlahan. Sebuah gantungan kunci bertulis malioboro. Aku terheran dalam hati.
“Ciee… mas Dika kasih gantungan kunci nih.” Ledek Anggun dan mengambil gantungan dari tanganku. Anggun dan Nita menelusuri tiap lekuk gantungan kunci. Layaknya detective handal yang menyelusuri detail, barang kali ada yang mencurigakan.
“May, kok tampak udah usang sih, udah lama.” kata Nita. Aku melihat kembali. Gantungan tampak telah lama dipakai. Aku mengerutkan dahi. Segelintir pertanyaan memenuhi isi otakku. Aku menaruhnya disaku celanaku. Biarlah akan aku tanyakan nanti jika bertemu dengan mas Dika. Aku mendiamkan pertanyaan Nita. Pikiranku seolah cepat berlalu tentang gantungan kunci malioboro. Bayang mas Ikbal kembali berkelebat dalam pandang mataku
“Kalian lihat mas Ikbal nggak tadi. Senyumannya manis. Aku terseponalah.” Ucapku heboh.
“Ter-pe-so-na Maya.” Kata Anita meluruskan kataku.
Anggun dan Nita hanya menggeleng – gelengkan kepala melihatku begitu menggilai mas Ikbal. Mereka meledekku dengan segala guyonan mereka. Aku tersenyum manja dan memerahkan kedua pipiku. Aku nampak tak percaya melihat dia menganggukkan kepalanya dan membuka kaca helmnya. Bayangannya masih berkelebat di benakku tak mau hilang. Tak seperti biasanya dia begitu. Mungkin karena ada mas Dika sehingga dia mau beramah tamah denganku.
Hatiku melambung tinggi. Ingin berteriak keras bahagia membagi rasa pada semuanya. Menari – nari tarian romantis antara Romeo dan Juliet dibawah sinar rembulan. Hati seolah mekar seperti kembang sore yang berada dipinggir jalan. Nampak malu – malu untuk membuka kelopaknya. Dan mata berbinar seperti berlian yang berkilau di pagi hari. Semoga aku terlihat olehnya sebagai berlian yang perlu ia raih hatinya.
Tanpa terasa kos kosan ada di depan mata. Terparkir motor besar yang mas Ikbal kendarai tadi. Sayang, penghuninya berada di dalam. Aku berlalu pergi sambil memandang sepeda motor. Tersenyum – senyum sendiri sambil menyanyikan nada cinta dalam hati. Memasuki kamar kos yang tak seberapa luasnya. Merebahkan tubuh ke kasur. Melepas penat dengan membayangkan mas Ikbal kembali. Aku malu pada diriku sendiri. Menutup mukaku dengan bantal kecil. Mengguling – nggulingkan badan yang semakin terbuai oleh semerbak cinta menyelimuti.
“Hey mau sampai kapan kamu guling – guling nggak karuan gitu. Masak gih! Lapperrrr…”  Ledek Anggun yang memergokiku. Aku semakin malu. Kembali menata diriku yang berantakan. Mendorong anggun keluar dari kamarku. Mengganti pakaian dan segera bergelut dengan berbagai bumbu masakan. Dulu aku buta dengan bumbu – bumbu dapur yang ruwet jika dihafalkan satu persatu. Tak bisa masak. Entah itu gosong, keasinan, terlalu matang dan apapun bermacam bentuk. Di rumah memang aku tak pernah menyentuh dapur dalam urusan masak. Pekerjaan memasak aku tak suka. Di kos ini Anggun dan Nita mengajariku cara memasak. Menjadi guru masakku. Kadang sering bertengkar gara – gara makanan. Biasa selera lidah yang berbeda dengan bumbu masakan khas dari daerah masing – masing.
Makanan terhidang kami berkumpul untuk menyantap makan malam. Sayur kacang panjang dan telur dadar menjadi menu makan malam kami. Aku lupa mengambil krupuk yang ku taruh di kamarku. 
“Nit, minta tolong sekalian ambilin hape yang di meja yah?”
“Okeh, yang penting jajanan tak rampok semua.”
“Persediaan Nit.”
“May, ada tiga panggilan tak terjawab dari Mas Iik nih! Ciee siapa tu mas Iik?” teriak Nita dari kamarku. Ia keluar dengan membawa krupuk di tangannya dan hapeku juga. Ia langsung menyerahkannya padaku. Kembali menyantap makanan. Aku tak menghiraukan panggilan itu. Hapeku kembali bergetar. Sms masuk. Ku buka sms dari mas Iik.
“Siapa si May?” tanya Nita kembali penuh penasaran.
“Ada deh mau tau aja.” Aku menyudahi makan malamku. Mencuci piring dan segera kembali ke kamar mengambil jaketku.
“Mau kemana?” tanya Anggun.
“Keluar sebentar.” Aku langsung keluar tanpa menjelaskan apa keperluanku keluar. Terdengar suara bisikan dari Nita dan Anggun namun tak kuhiraukan. Aku tahu pasti mereka ingin tahu apa yang terjadi. Akan kujelaskan nanti saja. Tanganku menggenggam gantungan kunci yang bertulis malioboro. Suara degub jantungku begitu cepat kedengarannya seperti pacuan kuda. Tak karuan. Melangkah ke depan dan berjalan menuju rumah ibu kos. Tanganku berkeringat. Aku merabanya semua jemariku dengan ibu jari. Meremas gugup dengan apa yang aku akan lakukan. Aku tepat berada persis depan pintu. Mengetuk atau tidak. Kuurungkan niatku. Membalikkan badanku ingin kembali ke kos saja. Baru satu langkah aku berhenti. Membalikkan kembali badanku. Mengetuk yakin pintu rumah ibu kos.
Tok tok tok . . . .
“Assalamu’alaikum….” Ucap salamku. Satu kali salam belum ada jawaban. Dari luar sini terdengar suara ramai sedang menonton televisi. Aku mengulangi salamku lebih keras. Beberapa detik kemudian ibu kos menjawab salamku. Ia segera membukakan pintu untuku.
“Wa’alaikumsalam. Eh mbak Maya. Ada apa ini kok sendirian ke sini, yang lain mana? Mari masuk mbak.”
“Iya ibu terima kasih, Maya hanya sebentar kok. Itu ibu mas Dikanya ada. Mau ngembailiin barangnya mas Dika.”
“Oh, sebentar ya tak panggilin. Mas Iik ada mbak Maya.”
Terdengar mas Dika menjawab cekatan panggilan ibu. Segera ia menampilkan diri padaku. Ibu kos meninggalkan kami di teras rumah. Segera ku ulurkan tanganku dan membuka genggaman.
“Nih gantungannya. Lenjeh banget! Mas Iik yang ngasih, eh minta dikembaliin. Huu.. dasar!” kataku kesal sambil menyerahkan gantungan kunci. Mas Dika tak menerimanya ia malah menyembunyikan tangannya. Memanggil mas Ikbal untuk keluar.
“Ikbal! Keluar sebentar. Ini punyamu bukan?” teriak mas Dika. Aku mengernyitkan dahiku. Apa yang mas Dika lakukan sungguh tak bisa aku tebak. Mas Dika menaikkan alisnya ke atas. Mencoba menggodaku denghan senyum mencurigakan darinya. Aku masih ternganga dengan apa yang ia buat.
 “Good luck yah.” Mas Dika mengacak rambutku. Aku segera merapihkannya. Mas Ikbal keluar dari kamarnya. Aku menarik nafas panjang. Melihat mas Ikbal membuatku tak berkutik apapun.
“Apanya yang punyaku?” tanya mas Ikbal menghampiri kami berdua.        
“Tuh di Maya. Haduh aku ketinggalan pertandingan bolaku.” Kata mas Dika dan segera pergi sambil menepuk bahu mas Ikbal. Aku tak tahu apa yang diisyaratkan mas Dika pada mas Ikbal. Terlalu rumit untukku.
Melihat kursi yang tersedia di teras depan. Mas Ikbal menyuruhku untuk duduk sebentar. Aku pun menurutinya.
“Apanya yang punyaku May?” tanya mas Ikbal.
“Gantungan kunci malioboro, kata mas Dika ini punya mas Ikbal.”
“Owh, nemu dimana? Aku malah nggak nyadar ini hilang. Makasih yah?”
“Ia sama – sama mas. Mmm. . . jatuh waktu kita pas pasan tadi. Ya udah aku mau pulang ke kos mas.” Kataku gugup.
“Loh udahan, nggak main dulu.”
“Nggak mas.” Aku ingin bergegas menyudahi pembicaraanku dengan mas Ikbal. Karena semakin ku disampingnya semakin panas dingin tubuhku.
“Jangan terlalu kaku berbicara denganku May, nyante aja. Padahal aku ingin ngobrol banyak denganmu.” Lanjut mas Ikbal yang seolah mencegatku untuk tidak segera kembali. Aku hanya tersenyum kecil. Menggaruk rambut tandaku kebingungan.
“Besok kuliah jam berapa?” tanya mas Ikbal
“Biasa jam delapan mas.”
“Hemm seperlunnya aja nih jawabannya. Tadi kayaknya waktu sama Dika rame kamu May?”
Aku kembali tersenyum kecil. Tak tahu kata yang harus aku keluarkan untuk menyambung obrolan tadi. Rasanya hatiku terbelenggu oleh sesuatu yang lain dan seolah menahanku. Bodohnya aku yang terlihat terlalu kaku dengan mas Ikbal.
Suara hela nafas mas Ikbal terdengar olehku. Aku melihat wajah mas Ikbal yang memandangku. Rasanya ia ingin bicara banyak malam ini. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Mengalihkan pandangannya dengan menatap langit malam yang terlihat banyak bintang disana. Aku ikut memandangi langit. Indahnya bintang – bintang penyejuk malam. Mereka berbaris membentuk formasinya sendiri – sendiri. Menyentilkan titik cahaya tak menyilaukan mata.
“Aku terlalu bodoh untuk segera menyamankan seseorang bercerita denganku. Untuk bertemu dengan seseorang saja aku harus perlu bantuan terhadap temanku.” Kata mas Ikbal kembali.
“Maksudnya?” tanyaku tak tahu.
“Hemm…inilah yang membuatku iri pada Dika. Mengapa dia bisa dekat denganmu. Membuatmu marah dan tertawa olehnya. Terkadang aku membenci temanku sendiri hanya karena aku sering melihatmu bercerita dengannya. Selalu seperti ini.”
“Haduuhh mas Ikbal salah paham nih… Mas Dika tuh nyebelin. Dia selalu saja bikin aku jengkel. Panggil aja orangnya pasti dia nggak henti – hentinya menjahiliku. Aku benci mas Dika, yang aku suka tu mas . . .” aku berhenti meneruskannya. Tak ingin dia ketahui isi hatiku.
Mas Ikbal menarikkan alisnya ke atas.
“Mas siapa?” tanya mas Ikbal. aku hanya tersenyum. Tak ingin mengulangnya kembali. Namun mas Ikbal begitu ingin mengetahuinya. Ia mengulang pertanyaan kembali.
“Mas Dika kan?”
“Bukan.”
“Mas Ikbal?” tanya mas Ikbal mengucap namanya sendiri.
“Bukan. Eh..”
“Mas Ikbal, mas Dika?
“Mas . . .”
“Aku atau Dika?”
Aku terhenyak sekejap. Mas Ikbal mencecarku. Terkaget juga mas ikbal menyebutkan namanya untuk aku suka. Hatiku rasanya tak karuan dicecar dengan dua nama itu.
“Sudahlah, tidak penting saat ini Maya suka dengan siapa. Tapi aku mulai sekarang ingin menjadi teman dekatmu. Lebih dekat daripada Dika.”
Mas Ikbal meninggalkanku. Ia seolah tak ingin kembali memandangku yang bingung. Benarkah ia marah? Atau apa yang terjadi dengan perasaan dia. Dan haruskah aku bahagia karena mas Ikbal bicara jujur tentang hatinya tadi. Aku tak mengenali perasaanku sendiri. Tak seperti tadi yang gugup penuh peluh keringat. Aku hanya terdiam seperti orang kebingungan di persimpangan jalan. Ingin bertanya pada siapa mana jalan yang harus ku ambil. Aku terlalu rumit dengan perasaanku ini. Mas Ikbal begitu tampak lain.
Aku segera berdiri. Beranjak melangkahkan kaki. Menanyakan pada diriku sendiri. Suka? Yah aku yakin dengan hatiku bahwa aku menyukai mas Ikbal. Isi otakku dipenuhi olehnya. Namun mengapa perkataan mas Ikbal tadi tak sedikitpun yang membuatku bergetar. Apa aku terlalu bodoh untuk meresapinya. Apa yang aku fokuskan tadi. Pearasaan suka? Mas Ikbal apa mas Dika? Aku hanya tersenyum. Mas Ikbal begitu naif. Jelas saja aku menyukainya. Apa yang membuat ia salah tangkap. Aku dan mas Dika hanya teman yang saling menyebalkan satu sama lain. Toh mas Dika tahu bahwa aku menyukai mas Ikbal. Dia juga membantu mas Ikbal untuk bertemu denganku malam ini. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Harusnya tadi aku langsung jawab saja pertanyaan mas Ikbal siapa yang aku suka.
Aku membinarkan mata. Berlari kembali dan ingin segera menemui mas Ikbal. Pintu masih terbuka. Segera aku memanggil Mas Ikbal. Aku menunggu tak sabar. Membalikkan badanku dan melihat bintang yang seolah tersenyum padaku.
“Apa lagi May, Ikbal lagi ke kamar kecil.”
Aku membalikkan badanku. Melihat mas Dika yang berada di depanku. Angin menghempasku. Mendinginkan seluruh tubuh ini. Degub jantungku kembali tak berirama seperti biasanya. Aku mengusap kedua tanganku. Memandang lekat mas Dika yang berada tepat di depanku. Semakin mendekat padanya. Mas dika semakin mundur dan mengeryitkan dahinya. Aku semakin tak menentu dengan pandanganku. Mas Dika mengarahkan jari telunjuk ke dahiku. Dan memundurkanya. Dia mengecek dahiku dengan telapak tangan dan membandingkan dengan suhu di dahinya.
“Aduh May, kapan kamu kambuhnya? Gawat nih habis ketemu Ikbal jadi gila kamu.”
“Isshhh. . . jangan ngacolah mas.”
Aku masih memandang mata mas Dika. Serasa sayup ia memandangku. Tak ada yang ia sembunyikan dariku. Aku merasa akulah yang menyembunyikan sesuatu padanya. Mengapa mas Dika begitu mudah untuk ku jelaskan.
“Mas Dika kenapa kamulah yang mebuat hatiku semakin bimbang?” kataku lirih tak sadar.
“Apa May?”
“Hah! Apanya yang apa?”
“Bener nih anak tambah gila. Dah sana pulang.”
Aku masih terdiam. Hatiku berasa dengan mas Dika atau mas Ikbal. Mengapa perasaan yang tak ku kenal kembali datang. Tak tahu kenapa rasa ini semakin melonjak bertemu dengan mas Dika dan tak mau hilang pikiran ini tentang mas Ikbal.
“Yah yah, yuk tak anter pulang.”
Mas Dika menarik tanganku. Menyeretku kembali ke kosan. Tangan mas Dika terasa hangat menyentuhku. Begitu nyaman. Dan tak ingin ku lepas. Entah mengapa aku ingin menangis. Sebutir tetes hangat menyentuh pipiku. Teringat kembali cecaran mas Ikbal padaku. “Siapa yang kau suka? Mas Ikbal,mas Dika? Aku atau Dika?” Aku berusaha mendengar jerit hati kecilku yang jujur. Diakah yang memang aku suka, aku cinta?

Senin, 28 November 2011

Hujan di Baturaden

Hujan di Baturaden
Oleh: Astrie Damayanti

Rintik kecil membekukan jalan dimana aku melangkah.  Keheningan meringkuk ringkih melepas angin malam. Aku berlindung di bawah payung merah muda, memasukkan tangan kiriku ke saku jaket tebalku. Senyap begitu membelakangiku. Dingin baturaden menusuk tulangku. Harusnya aku menikmati selimut tebalku dikasur atau menikmati secangkir kopi susu yang sudah aku siapkan tadi. Namun, keluh perutku yang berteriak makan! makan! menginginkan sesuatu yang dapat mengganjal perut, mendorongku keluar tuk pergi ke warung. Aku mengeluarkan handphone dari saku kiriku mengecek ada sms masuk  atau tidak. Yang kulihat hanyalah wallpaper handphone dan waktu yang menunjukan pukul 19.45 WIB. Sepi malam ini sungguh merangkulku yang berjalan sendiri.
Warung makan yang tak jauh dari kontrakanku serasa jalan panjang lurus yang memakan waktu banyak tuk sampai di sana. Aku hanya melihat hitam aspal dan menghitung setiap tapak kaki yang aku langkahkan. Warung terlihat sepi hanya ada dua pembeli terlihat memesan makanan. Padahal biasanya penuh berjejal pembeli sampai – sampai aku tak bisa melihat mana ibu penjualnya. Aku meletakkan payung merah muda di teras warung. Dari balik kaca tempat menyajikan makanan, piring – piring yang berjejer berisi makanan hanya tersisa sedikit. Tak ada yang perutku inginkan. Mungkin lumpia hangat pas untuk malam ini. Aku segera memesan lumpia. Namun itu juga mengerutkan perutku, lumpia habis sejak tadi sore. Ku lihat ayam berbumbu belum mencicip minyak goreng melambaikan tangannya padaku, seolah memanggilku, memintaku untuk memesannya. Akupun mengabulkan permintaanya. Lelah berjalan membuatku duduk di  kursi yang berjajar rapih sambil menikmati acara televisi. Menunggu ibu menggorengkan ayam untukku.
 Tetes hujan yang jatuh menimpa genting membunyikan suara gaduh seperti mainan anak kecil yang mengerincing riang. Seseorang diluar sana meletakkan payung merah hatinya didekat payungku. Mencoba menata dengan benar. Arah mataku tertuju olehnya yang telah menarik perhatianku. Senyumku berkembang. Entah apa yang menarik bibirku melukiskan lengkung ceria. Pipiku hangat memerah. Seorang pria yang tak asing dalam pandanganku. Mas Maulana dengan blezzer coklat muda bercelana pendek menarik perhatianku sekejap. Aku terpesona olehnya. Begitu keren dengan wajah manis kulit putihya. Sedikit kumis yang ia biarkan  tumbuh, sungguh malam ini dia begitu tampan. Ia mengarah padaku. Mata kami saling bertemu dalam sekejap waktu. Aku menundukkan wajahku. Terdiam dan menahan senyum untuknya.
Aku mendengar langkahnya yang mengarah padaku. Syaraf – syaraf dalam tubuhku menegang seolah tak bisa berkutik. Ku pegang kedua tanganku, rasa hangat mengalir. Ingin aku melihatnya sekali lagi namun jantungku begitu berdegup berpacu cepat dan membuatku malu untuk mengangkat daguku. Aku melihat ia melintas di depanku. Menarik kursi dan duduk di sebelahku. Aku semakin tak bisa menahan diriku yang salah tingkah dibuatnya.
“Ibu, pesen lumpianya ada?” tanya mas Maulana pada ibu warung yang sedang sibuk membungkus menu makananku.
“Habis mas Maulana, tadi sore banyak yang beli si mas,..mas Maulana sama mbaknya kurang gasik kesini.” Kata ibu warung yang memadukan dua bahasa jawa dan Indonesia. Aku yang mendengar diriku dibawa – bawa hanya bisa tersipu malu.
“Mmm… ya sudah Bu, saya pesen ayamnya saja.”
“Nggih mas Maulana, sekedap nggih?”
Aku melihat mas Maulana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku menarik nafas panjang. Dia begitu terlihat manis untuk seorang lelaki.
“Oh iya An, kwitansi sama uang kembalian konsumsi yang pengajian kemaren udah ada di aku.” Kata mas Maulana yang mengajakku bicara. Aku tersontak kaget. Ia mengajakku bicara dan ini adalah hal yang memang aku inginkan dalam hidupku. Pengajian akbar kemarin mendekatkan aku dengan mas Maulana dalam satu kerjasama mengurusi konsumsi.
“Iya mas, makasih ya.” Aku tersipu malu sambil menarik lengan jaketku tuk menutupi jemariku yang terlihat nervous oleh perkataannya. Aku terdiam menutup rapat kedua belah bibirku. Hanya bisa tersenyum-senyum kecil. Melirik lekuk wajah mas Maulana. Aku harap dia tetap memandang layar televisi.
“Niki mbak, ayam gorengnya.”
“Ia ibu, terimakasih.”
            “Mas Maulana duluan ya mas?” ucapku sedikit senyum. Mas Maulana hanya menganggukan kepalanya tanpa senyum sedikitpun. Aku bermuram hati. Dia begitu dingin kepadaku. Padahal kami sering bertemu dan saling terlibat dalam kegiatan dalam organisasi yang sama. Namun tetap saja ia begitu kaku terhadapku. Dan lewat organisasi inilah awal dalam cerita merah jambuku berlabuh. Mengenalnya perlahan dengan diam – diam mencari informasi tentangnya, diam – diam mencari perhatian dengannya, dan kini aku diam – diam menyukainya. Dia tetap tak melihatku. Aku menundukkan kepalaku, mengaharap berjuta rasa menghiburku.
            Aku mengambil payung merah mudaku sambil melihat mas Maulana duduk memainkan jemari tangannya di atas meja. Terdengar ketukan – ketukan irama yang membosankan untukku. Aku memberikan senyum seolah berharap mas Maulana membalas senyumku. Melangkahkan kaki beranjak pergi. Kembali menerobos angin malam yang perlahan membungkamku untuk diam tak berkutik. Lima langkah enam langkah tujuh langkah aku selalu menghitungnya. Mencoba mengalihkan perhatianku agar nama Maulana tak muncul di benakku. Semakin ku coba memfokuskan diri semakin namanya melekat. Dag dig dug, degub jantungku malah semakin tak berirama. Aku mengulangi menghitung langkahku.
            “Satu langkah, dua langkah, tiga lllaan…” Aku terdiam menghentikan langkahku. Ada suara langkah selain langkahku yang ikut dengan irama langkahku. Aku melihat sekelilingku yang sepi, namun aku tak berani tuk menoleh ke belakang. Payung yang tadinya ku pegang tegak, kini gagang payung kusandarkan di bahu kanan.
            “Sudah berapa langkah, kok berhenti?” Suara basse yang terdengar jelas di telinga sebelah kanan memaksa badanku tuk melihatnya. Mataku terbelalak kaget dan jeritanku secara spontan keluar begitu saja keluar dari mulutku. Payung dan makananku yang berbungkus tas plastik hitam kulempar tak berarah. Aku ingin berlari secepat kilat, namun tak kulakukan karna yang kulihat dia, mas Maulana. Tubuhku gemetar. Aku melihat mas Maulan memayungiku yang ketakutan. Ia tertawa kecil. Raut mukaku yang pucat pasi berubah merona karenanya.
            “Tarik nafas dulu…” Kata mas Maulana padaku. Aku menarik nafas untuk meredam kekagetanku tadi. Tak jauh dariku berdiri mas Maulana mengambil payung dan makananku yang aku lempar tadi.
            “Ambil, nanti kamu tambah basah.” Mas Maulana mengembalikan payung dan makananku.
            “Terima kasih mas, aku bener – bener takut ni... Masih gemetaran mas.” Aku mengambil payungku lewat tangan mas Maulana. Sulit dipercaya olehku.
            “Ha..ha.. ia maaf. Mau pulang kan, yuk bareng!” Mas Maulana masih menahan tawanya. Dan kami melangkah bersama. Aku masih bertanya – tanya apa yang terjadi barusan dan sekarang, ini benar diluar nalarku. Aku begitu bahagia, ingin meledek rasanya seperti bom yang siap pakai. Bom yang berisi sejuta rasa cinta yang menyerbakan wangi bunga. Tersenyum lepas menikmati rasa yang mengalir dalam tubuhku. Aku menarik nafas. Menenangkan perasaanku yang semakin membludak campur aduk tak karuan. Memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
            “Kosan mas Maulana dimana?”
            “Perempatan itu, ntar belok kiri yang deket sama warnet.”
            “Owh.. kok sendirian mas?”
            “Kamu juga sendirian?”
            “He..he.. ia yah.. tapi sekarang enggak kan ada mas Maulana.”
            “Bisa saja.” Mas Maulana tersenyum kecil. Kami kembali terdiam sejenak.
            “Andin?” kata mas Maulana menyebut namaku.
            “Ia mas.” Jawabku penuh tanya, ingin tahu kata – kata yang akan terucap lagi dari bibirnya.
            “Kita kenalan lagi yuk?”
            “Hah, lagi! Kan kita udah kenal.”
            “Ia yah.. tapi mas ingin kenal Andin jauh lebih dekat.”
            Aku terhenyak lebih kaget daripada tadi. Menghentikan langkahku. Mas Maulanapun demikian. Kami berdua berdiri saling berhadapan.Kedua bola mata kami saling bertemu. Mas Maulana tersenyum manis sekali. Dan ini kali pertama aku melihat senyuman mas Maulana persis dihadapanku dan itu untukku. Aku menguatkan tanganku pada pegangan payung. Detak jantungku seirama dengan butir air hujan yang semakin lebat menhujam payungku. Mewakili emosiku yang tak mampu menahan gejolak rasa. Mematung tak mampu berbuat apa – apa. Ya Allah bantulah aku dalam urusan cinta kali ini. Mekarkanlah bunga cinta di dalam dadanya. Aku ingin di situlah tempat yang selama ini aku cari.
 Mas Maulana menatap lekat. Aku melihat keteduhan sorot mata bersinar rembulan. Semakin melayang saja hasrat dalam tubuhku. Aku tak bisa menjawab iya pada mas Maulana. Raut wajahku mungkin sudah mewakili jawabanku saat ini. Merah merona merata ke seluruh permukaan wajahku. Tak kusadari aku menganggukkan kepalaku sambil tersipu malu. Dan akupun tersenyum membalas senyuman mas Maulana. Lama – lama aku tertawa kecil. Mas Maulana mengikuti tawaku juga. Mungkin tawa lelucon cinta yang malu – malu menyampaikan peasan hati.
Aku begitu bahagia malam ini. Di bawah rintik hujan berlindung payung yang hampir sama warnanya. Merah hati dan merah jambu. Menyatukan aku dan mas Maulana mendekat riang mengutarakan rasa yang terselip dalam hati. Hujan di baturaden yang dingin kini serasa hangat dengan kebersamaanku berjalan menapaki setiap ruas jalan berdua bersama mas Maulana. Semakin cair kebekuan darinya. Tertawa dan bercanda begitu menyenangkan.
The End

Thank’s to:
Allah SWT yang telah menghadirkan dia dalam hatiku sehingga muncul inspirasi menuliskannya dalam sebuah cerpen.
                                                                                                                                                                 
Nandheastrie Fine

Selasa, 15 November 2011

makalah perubahan fisiologi sistem reproduksi pada masa nifas

PERUBAHAN FISIOLOGIS SISTEM REPRODUKSI
PADA MASA NIFAS

Disusun oleh :

1.      Anggun Mega Pratami         (P17424310001)
2.      Anisa Bella Setyaningtias     (P17424310002)
3.      Anisatun Nur Hasanah         (P17424310003)
4.      Anita Kusuma Rahayu         (P17424310004)
5.      Anti Nur Jannah                   (P17424310005)
6.      Astrie Damayanti                  (P17424310006)


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEBIDANAN PURWOKERTO
TAHUN AJARAN 2011/2012

KATA PENGANTAR


            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perubahan Fisiologi Sistem Reproduksi Pada Masa Nifas.”
            Kami mengucapkan terimakasih kepada :
1.      Ibu Suparmi S. Pd, SSiT , M.Kes selaku Kaprodi DIII Kebidanan Purwokerto
2.      Ibu Ulfah Musdalifah, S.Kep, Ns,  selaku dosen pembimbing.
3.      Orang tua kami.
4.      Rekan-rekan DIII Kebidanan Purwokerto.
5.      Semua pihak yang telah membantu dalam mewujudkan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.


Purwokerto, 1 Oktober 2011



Penyusun     


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................2

DAFTAR ISI....................................................................................................................3

BAB I. PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang.................................................................................................4
            B. Tujuan Penulisan..............................................................................................4

BAB II. TINJAUAN TEORI
            A. Pengertian Masa Nifas.....................................................................................5
            B.Perubahan Fisiologi Sistem Reproduksi Pada Masa Nifas ..............................5

BAB III. PENUTUP
             A. Kesimpulan……………………………………………………………........16
             B.Saran………………………………………………………….…………......16
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................17
                                             

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
            Periode pascapartum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ – organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang – kadang disebut puerpurium atau trimester keempat kehamilan. Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas , walaupun dianggap normal , perawat harus memanfaatkan pengetahuannya tentang anatomi dan fisiologi ibu pada periode pemulihan , karakteristik fisik dan perilaku bayi baru lahir , dan respons keluarga terhadap kelahiran seorang anak . Bab ini membahas perubahan anatomi dan fisiologis wanita setelah melahirkan.

B. TUJUAN PENULISAN
            Makalah ini dibuat dengan tujuan :
1.      Memenuhi tugas dari mata kuliah Asuhan Kebidanan III
2.      Menjelaskan tentang perubahan – perubahan fisiologis  yang terjadi pada system reproduksi pada saat masa nifas.







BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian Nifas
Masa nifas ( Puerperium ) didefinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran. Namun secara popular , diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal ( hughes , 1972 ) .

B.     Perubahan Fisiologis Sistem Reproduksi Pada Masa Nifas
1.      Perubahan Pada Vagina dan Perineum
Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil , 6 sampai 8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu ke empat, walaupun tidak akan semenonjol pada wanita nulipara. Pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap etrofik pada wanita menyusui sekurang – kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali . Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina . kekeringan local dan rasa tidak nyaman saat koitus ( dispereunia ) menetap sampai fungsi ovarium kembali normal dan menstruasi dimulai lagi. Biasanya wanita dianjurkan menggunakan pelumas larut saat melakukan hubungan seksual untuk mengurangi nyeri.
Pada awalnya , introitus mengalami eritematosa dan edematosa , terutama pada daerah episiotomi atau jahitan laserasi . Perbaikan yang cermat , pencegahan , atau pengobatan dini hematoma dan hygiene yang baik selama dua minggu pertama setelah melahirkan biasanya membuat introitus dengan mudah dibedakan dengan introitus pada wanita nulipara.
Pada umumnya episiotomy hanya mungkin dilakukan bila wanita berbaring miring dengan bokong diangkat atau ditempatkan pada posisi litotomi. Penerangan yang baik diperlukan supaya episiotomy dapat terlihat jelas. Proses penyembuhan luka episiotomy sama dengan luka operasi lain. Tanda – tanda infeki ( nyeri , panas , merah , bengkak atau rabas ) atau tepian insisi tidak saling mendekat bisa terjadi. Penyembuhan harus berlangsung dalam 2 sampai 3 minggu.
Hemoroid ( varises anus ) umumnya terlihat . Wanita sering mengalami gejala terkait , seperti rasa gatal , tidak nyaman , dan perdarahan berwarna merah terang pada waktu defecator. Ukuran hemoroid biasanya mengecil beberapa minggu setelah bayi lahir.
2.      Perubahan Pada Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan . Delapan belas jam pasca partum , serviks  memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula . Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa , tipis dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan . Ektoserviks ( bagian serviks yang menonjol ke vagina ) terlihat memar dan ada sedikit laserasi kecil – kondisi yang optimal untuk perkembangan infeksi. Muara serviks , yang berdilatasi 10 cm seewaktu melahirkan , menutup secara bertahap. 2 jari mungkin masih dapat dimasukkan kedalam muara serviks pada hari ke 4 sampai ke-6 pasca partum, tetapi hanya tangkai kuret terkecil yang dapat dimasukkan pada akhir minggu ke – 2. Muara serviks eksterna tidak akan berbentuk lingkaran seperti sebelum melahirkan , tetapi terlihat memanjang seperti suatu celah , sering disebut seperti mulut ikan .Laktasi menunda produksi estrogen yang mempengaruhi mucus dan mukosa.
3.      Perubahan Pada Uterus
a.       Perubahan Pada Pembuluh Darah Uterus
Kehamilan yang sukses membutuhkan peningkatan aliran darah uterus yang cukup besar. Untuk menyuplainya , arteri dan vena di dalam uterus , terutama plasenta , menjadi luar biasa membesar , begitu juga pembuluh darah ke, dan dari uterus . Di dalam uterus , pembentukan pembuluh – pembuluh darah baru juga menyebabkan peningkatan aliran darah yang bermakna. Setelah pelahiran , kepiler pembuluh darah ekstra uterin berkurang sampai mencapai atau paling tidak mendekati keadaan sebelum hamil.
Pada  masa nifas , di dalam uterus pembuluh – pembuluh darah mengalami obliterasi akibat perubahan hialin , dan pembuluh – pembuluh yang lebih kecil menggantikannya . Resorpsi residu hialin dilakukan melalui suatu proses yang menyerupai proses pada ovarium setelah ovulasi dan pembentukan korpus luteum . Namun , sisa – sisa dalam jumlah kecil dapat bertahan selama bertahun – tahun.
b.      Perubahan Pada Serviks dan Segmen Bawah Uterus
Tepi luar serviks , yang berhubungan dengan os eksternum , biasanya mengalami laserasi terutama di bagian lateral . Ostium serviks berkontraksi perlahan , dan beberapa hari setelah bersalin ostium serviks hanya dapat ditembus oleh dua jari. Pada  akhir minggu pertama , ostium tersebut telah menyempit . Karena ostium menyempit , serviks menebal dan anal kembali terbentuk . Meskipun involusi telah selesai , os eksternum tidak dapat sepenuhnya kembali ke keadaan seperti sebelum hamil. Os ini tetap agak melebar , dan depresi bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai perubahan yang permanen dan menjadi ciri khas serviks para. Harus diingat juga bahwa epitel serviks menjalani pembentukan kembali dalam jumlah yang cukup banyak sebagai akibat pelahiran bayi. Contohnya , Ahdoot dan rekan ( 1998 ) menemukan bahwa sekitar 50 % wanita dengan sel skuamosa intraepithelial tingkat tinggi mengalami regresi akibat persalinan pervaginam.
Segmen bawah uterus yang mengalami penipisan cukup bermakna akan berkontraksi dan tertarik kembali , tapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam waktu beberapa minggu , segmen bawah telah mengalami perubahan dari sebuah struktur yang tampak jelas dan cukup besar untuk menampung hampir seluruh kepala janin , menjadi isthmus uteri yang hampir tak terlihat dan terletak di antara korpus uteri diatasnya dan os internum serviks di bawahnya.
c.       Involusi Uteri
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
         Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 1 minggu (kira-kira sebesar grapefruit (jeruk asam) dan beratnya kira-kira 1000 g.
         Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus uteri mencapai 1 cm di atas tali umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum.
         Uterus, yang pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira  500 g, 1 minggu setelah melahirkan dan 350 g, 2 minggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi. Pada minggu ke enam, beratnya sampai 60 g. Dan pada minggu ke-8, uterus memiliki berat 30 g, yaitu sebesar uterus normal. Berikut gambaran involusi uterus.












         Peningkatan kadar estrogen dan progesteron bertanggung jawab untuk prtumbuhan masif uterus selama masa hamil. Pertumbuhan uterus prenatal tergantung pada hiperplasia, pningkatan jumlah sel-sel otot, dan hipertrofi, pembesaran sel-sel yang sudah ada. Pada masa pascapartum penurunan kadar hormon-homon ini menyebabkan terjadinya autolisis, perusakan sacara langsung jaringan hipertiroid yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah penyebab ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
        
d.      Subinvolusi uterus
Istilah ini menggambarkan suatu keadaan menetapnya atau terjadinya retardasi involusi , proses yang normalnya menyebabkan uterus nifas ke bentuk semula. Proses ini disertai pemanjangan masa pengeluaran lokhia dan peradangan uterus yang berlebihan atau irregular dan terkadang juga disertai perdarahan hebat. Pada pemeriksaan bimanual , uterus teraba lebih besar dan lebih lunak dibandingkan normal untuk periode nifas tertentu. Penyebab subinvolusi yang telah diakui antara lain retensi potongan plasenta dan infeksi panggul. Karena hampir semua kasus sub involusi disebabkan oleh penyebab local , keadaan ini biasanya dapat diatasi dengan diagnosis dan penatalaksanaan dini. Pemberian ergonovin ( Ergotrate ) atau metilergonovin ( Methergine )0,2 mg setiap 3  atau 4 jam selama 24 jam sampai 48 jam direkomendasikan oleh beberapa ahli , namun efektivitasnya dipertanyakan . Di lain pihak , metritis berespon baik terhadap terapi antibiotic oral. Wager dan rekan ( 1980 ) melaporkan bahwa hampir sepertiga kasus infeksi uterus post partum awitan lambat disebabkan Chlamydia trachomatis ; sehingga pengobatan dengan tetrasiklin tampaknya sudah tepat.
Andrew dan rekan ( 1989 ) melaporkan 25 kasus perdarahan antarahari ke – 7 sampai 40 hari postpartum akibat arteri uteroplasental yang tidak berinvolusi. Arteri – arteri abnormal ini ditandai oleh tidak adanya lapisan endotel dan pembuluhnya yang terisi thrombus . Trofoblas periaurikular juga tampak pada dinding pembuluh – pembuluh ini dan para peneliti tersebut mengajukan dalil bahwa subinvolusi mungkin menggambarkan interaksi aberan antara sel –sel uterus dengan trofoblast , setidaknya berdasarkan hasil pengamatan terhadap pembuluh – pembuluh plasenta tersebut.
e.       Kontraksi
intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang terutama akibat kompresi  pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormon ang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh darah, dan membantu hemostatis. Selama 1 sampai 2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan oksitosin (pitosin) secara intravena atau intramuskular diberikan segera stelah plasenta lahir. Ibu yang merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan membiarkan bayinya di payudara segera setelah lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.

f.       Nyeri Pasca Melahirkan / Afterpain
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang. Ralaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. Rasa nyeri setelah melahirkan ini akan lebih nyata  dirasakan oleh ibu melahirkan dengan kondisi tertentu, misalnya pada persalinan yang overdistensi / peregangan berlebih yaitu pada kasus bayi besar (makrosomia) atau bayi kembar. Menyusui dan oksitosin tambahan biasanya meningkatkan nyeri ini karena keduanya merangsang kontraksi uterus. Biasanya nyeri ini berkurang intensitasnya dan melemah pada hari ketiga postpartum.
g.      Lokhia
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir seringkali lokia , mula -  mula berwarna merah , kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat . Rabas ini dapat mengandung bekuan darah kecil. Selama dua jam pertama setelah lahir , jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi . Setelah waktu tersebut , aliran yang keluar harus semakin berkurang.
Lokia rubra terutama mengandung darah. Aliran menyembur , menjadi merah muda atau coklat setelah 3 sampai 4 hari ( lokia serosa ). Lokia serosa terdiri dari darah lama ( old blood ) , serum , leukosit , dan debris jaringan . sekitar 10 hari setelah bayi lahir , warna cairan ini menjadi kuning sampai putih ( lokia alba ). Lokia alba mengandung leukosit , desidua , sel epitel , mucus , serum , dan bakteri. Lokia alba bisa bertahan selama 2 sampai 6 minggu setelah bayi lahir.
Pengkajian jumlah aliran lokia berdasarkan observasi tampon perineum sulit dilakukan. Jacobson (1985 ) menganjurkan suatu metode untuk memperkirakan kehilangan darah pasca partum secara subyektif dengan mengkaji jumlah cairan yang menodai tampon perineum . cara mengukur lokia yang obyektif ialah dengann menimbang tampon perineum sebelum dipakai dan setelah dilepas. Setiap peningkatan berat sebesar 1 gram setara dengan 1 ml darah . seluruh perkiraan cairan lokia tidak akurat bila factor waktu tidak dipertimbangkan. Seorang wanita yang mengganti satu tampon perineum dalam waktu 1 jam atau kurang mengeluarkan lebih banyak darah daripada wanita yang mengganti tampon setelah 8 jam.
Apabila wanita mendapat pengobatan oksitosin , tanpa memandang cara pemberiannya , lokia yang mengalir biasanya sedikit sampai efek obat hilang . setelah operasi sesaria , jumlah lokia yang keluar biasanya lebih sedikit. Cairan lokia biasanya meningkat , jika klien melakukan ambulasi dan menyusui. Setelah berbaring di tempat tidur selama kurun waktu yang lama , wanita dapat mengeluarkan semburan darah saat ia berdiri , tetapi hal ini tidak sama dengan perdarahan.
Lokia rubra yang menetap pada wal periode pascapartum menunjukkan perdarah berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membrane yang tertinggal. Terjadinya perdarahan ulang setelah hari ke – 10 pasca partum menandakan adanya perdarahan pada bekas tempat plasenta yang mulai memulih. Namun , setelah 3 sampai 4 minggu , perdarahan mungkin disebabkan oleh infeksi atau sub involusi . Lokia serosa atau lokia alba yang berlajut bisa menandakan endometritis , terutama jika disertai demam , rasa sakit , atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran cairan . Bau lokia menyerupai bau cairan menstruasi , bau yang tidak sedap biasanya menandakan infeksi.
Perlu diingat bahwa tidak semua perdarahan pervaginam pascapartum lain ialah laserasi vagina atau serviks yang tidak diperbaiki dan perdarahan bukan lokia.
LOKIA
BUKAN LOKIA
Lokia biasanya menetes dari muara vagina . Aliran darah tetap keluar dalam jumlah yang lebih besar saat uterus berkontraksi.
Apabila rabas darah menyembur dari vagina , kemungkinan terdapat robekan pada serviks , atau vagina selain dari lokia yang normal
Semburan lokia dapat terjadi akibat masasse pada uterus . Apabila lokia berwarna gelap , maka lokia sebelumnya terkumpul di dalam vagina yang relaksasi dan jumlahnya segera berkurang menjadi tetesan lokia berwarna merah terang ( pada puerpurium dini ).
Apabila jumlah darah berlebihan dan berwarna merah terang , suatu robekan dapat merupakan penyebab.

h.      Involusi Tempat Melekatnya Plasenta
Menurut Williams ( 1931 ) , ekstruksi lengkap tempat melekatnya plasenta perlu waktu sampai 6 minggu . Proses ini mempunyai kepentingan klinis yang besar ,  karena bila proses ini terganggu , dapat terjadi perdarahan nifas awitan lambat . Segera setelah pelahiran , tempat melekatnya plasenta kira – kira berukuran sebesar telapak tangan , tetapi dengan cepat ukurannya mengecil . Pada akhir minggu kedua, diameternya hanya 3 cm sampai 4 cm .Dalam waktu beberapa jam setelah pelahiran , tempat melekatnya plasenta biasanya terdiri atas banyak pembuluh darah yang mengalami thrombosis yang selanjutnya mengalami organisasi thrombus secara khusus.
Williams ( 1931 ) menjelaskan involusi tempat melekatnya plasenta sebagai berikut :
Involusi tidak dipengaruhi oleh absorpsi in situ , namun oleh suatu proses eksofilasiyang sebagian besar ditimbulkan oleh berkurangnya tempat implantasi plasenta akibat pertumbuhan jaringan endometrium. Hal ini sebagian dipengaruhi oleh perluasan dan pertumbuhan endometrium ke bawah dari tepi – tepi melekatnya plasenta dan sebagian oleh perkembangan jaringan endometrium dari kelenjar dan stroma yang tertinggal di bagian dalam desidua basalis setelah pelepasan plasenta . Proses eksfoliasi semacam itu dianggap sebagai suatu ketetapan yang bijaksana ; sebaliknya kesulitan besar akan dialami dalam penyelapan arteri yang mengalami obliterasi dan thrombus yang mengalami organisasi , yang bila menetap in situ , akan segera mengubah banyak bagian mukosa uterus dan miometrium di bawahnya menjadi suatu massa jaringan perut.
Anderson dan Davis  ( 1968 ) , menyimpulkan bahwa eksfoliasi tempat melekatnya plasenta berlangsung sebagai akibat pengelupasan jaringan superficial yang mengalami infark dan nekrotik yang diikuti oleh suatu proses perbaikan.
i.        Perdarahan Postpartum Awitan Lambat
Perdarahan uterus yang serius kadang terjadi 1 sampai 2 minggu pada masa nifas .Perdarahan paling sering disebabkan involusi abnormal tempat melekatnya plasenta , namun dapat pula disebabkan oleh retensi sebagian plasenta. Biasanya bagian plasenta yang tertinggal mengalami nekrosis tanpa deposit fibrin, dan pada akhirnya akan membentuk polip plasenta . Apabila serpihan polip terlepas dari miometrium , perdarahan hebat dapat terjadi.
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lee dan rekan ( 1981 ) terhadap 3.822 wanita yang melahirkan dalam periode 1 – tahun di Henry Ford Hospital , 27 wanita ( 0,7 persen ) mengalami perdarahan uterus yang signifikan setelah 24 jam pertama postpartum . Pada 20 diantara 27 wanita tersebut , uterusnya dinyatakan kosong berdasarkan pemeriksaan sonografik , dan yang penting , hanya satu wanita yang mengalami retensi jaringan plasenta.
Telah menjadi kesepakatan umum bahwa pada perdarahan uterus postpartum awitan – lambat , diperlukan tindakan kuretase yang sesuai . Meski demikian ,kuretase setelah perdarahan nifas awitan lambat biasanya tidak mampu mengeluarkan jaringan plasenta dalam jumlah banyak, dan perdarahan justru sering bertambah parah . Sehingga , alih – alih mengurangi perdarahan , kuretase lebih mungkin menyebabkan trauma pada lokasi implantasi dan menginduksi lebih banyak perdarahan. Penatalaksanaan awal sebaiknya diarahkan untuk mengendalikan perdarahan dengan menggunakan oksitosin , ergonovin , metilergonovin , atau prostaglandin intravena ( Adrinopoulus dan Mendenhall , 1983 ) , terutama apabila terdapat alasan untuk mempertahankan uterus untuk kehamilan berikutnya.Secara umum, kuretase dikerjakan hanya apabila terjadi perdarahan yang menetap dalam jumlah cukup banyak atau berulang bahkan setelah diberi penatalaksanaan awal.

j.        Regenerasi Endometrium
Dalam waktu 2 atau 3 hari setelah pelahiran , setelah desidua berdiferensiasi menjadi 2 lapisan . Stratum superficial menjadi nekrotik , dan terkelupas bersama lokhia. Stratum basal yang bersebelahan dengan miometrium tetap utuh dan merupakan sumber pembentukan endometrium baru. Endometrium terbentuk dari proliferasi sisa – sisa kelenjar endometrium dan stroma jaringan ikat antarkelenjar tersebut.
Proses regenerasi endometrium berlangsung cepat , kecuali pada tempat melekatnya plasenta. Dalam satu minggu atau lebih , permukaan bebas menjadi tertutup oleh epitel dan seluruh endometrium pulih kembali dalam minggu ketiga. Sharman ( 1953 ) , menemukan pemulihan endometrium lengkap pada specimen biopsy yang diambil pada hari ke – 16 atau lebih. Yang disebut endometritis masa nifas secara histologis hanyalah bagian dari proses perbaikan normal tersebut. Demikian pula , pada hampir separuh wanita postpartum , tuba valopi antara hari ke – 5 sampai ke – 15 menunjukkan perubahan peradangan mikroskopik yang merupakan gambaran khas salfingitis akut. Namun , hal ini bukan disebabkan oleh infeksi , melainkan hanya merupakan bagian dari proses involusi ( Andrews , 1951 )


4.      Perubahan Topangan Otot Panggul
Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan dan masalah ginekologi dapat timbul di kemudian hari. Jaringan penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat ibu melahirkan memerlukan waktu sampai 6 bulan untuk kembali ke tonus semula. Istilah relaksasi panggul berhubungan dengan pemanjangan dan melemahnya topangan permukaan struktur panggul. Struktur ini terdiri atas uterus , dinding vagina posterior atas , uretra , kandung kemih , dan rectum. Walaupun relaksasi dapat terjadi pada setiap wanita , tetapi biasanya merupakan komplikasi langsung yang timbul terlambat akibat melahirkan.








BAB III
PENUTUP

C.  Kesimpulan
           Seorang ibu hamil akan mengalami banyak perubahan – perubahan fisiologis   pada saat setelah melahirkan ( masa nifas ).Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan pada system reproduksi.  Perubahan yang tersebut  antara lain perubahan pada vagina dan perineum , serviks , uterus , dan juga otot penopang panggul.

D.  Saran
 Untuk mengahadapi perubahan pada system reproduksi ini, bidan memerlukan manajemen yang baik, agar ibu nifas mampu melaluinya dengan baik. Selain itu penting adanya bagi ibu nifas untuk memahami betul bagaimana perubahan yang terjadi pada system reproduksi saat masa nifas , agar ibu mampu membedakan antara perubahan yang fisiologis atau patologis pada saat masa nifas.











DAFTAR PUSTAKA


Bobak Irene, Lowdermik Deitra Leonard, Jensen Margaret Duncan. 2005. Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC
 Cuningham, Gant, Leveno dkk.2004. Obstetri Williams edisi 21. Jakarta : EGC
 Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan.  Jakarta : PT Bina Pustaka
Varney,Helen, dkk. 2003.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4.Jakarta :EGC